Teruntuk Saudariku

Hei, halo, apa kabar? Rasanya menjadi kaku, bahkan aku lupa bagaimana cara menyapamu. Tak seperti dulu, aku bisa menghubungimu kapan saja. Tapi kini semua sudah berubah, entah sejak kapan.
Bagaimana hidupmu sekarang? Apakah terasa lebih baik hidup tanpa aku? Apakah disana kau telah memiliki seseorang lainnya yang telah menggantikanku?
Aku ingin bercerita sedikit. Aku hampir lupa kapan terakhir kali kita berbincang, membicarakan impianku, impianmu tentang gambaran seseorang yang kau inginkan, tentang rencana-rencana liburan kita, menggosipkan salah satu sepupu kita yang sedang mengadopsi gaya-gaya anak gaul yang sedang ngetren dan banyak lagi. 
Tapi sekarang, semuanya terasa hampa. Oh, mungkin ini hanya perasaanku saja. Mungkin saja kau tidak merasakan apapun yang aku rasa, termasuk kekhawatiranku terhadap dirimu. Dan mungkin saja kau tidak pernah membaca tulisanku. Ah, aku tidak peduli. Aku hanya ingin menuangkan semuanya hanya tentangmu.
Aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu dan bersenang-senang dengan hidupku saat ini. Tapi kau yang pergi meninggalkanku. Kau pergi begitu saja dengan begitu banyak harapan yang tertulis di dahimu, tapi kau pergi tanpa berbekal apapun. Aku tak pernah takut jika memang kau berniat meninggalkanku, tapi aku takut kau tidak dapat bertahan dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kau hadapi sendiri di luar sana. 
Dalam hidup ini, tidak ada yang lebih buruk dari kesendirian. Dan tidak ada yang lebih baik jika menjalani hidup dengan kebersamaan. Sungguh, aku merindukanmu sekalipun sesekali kau bertingkah menyebalkan. Aku tak lagi mengenali dirimu yang sejak kecil tumbuh bersamaku dan menghabiskan banyak hari bersama. 
Hey, ingatkah tentang hal-hal yang aku ajarkan kepadamu? Hal pertama yang aku ajari adalah merokok dari puntung-puntung sisa Ibumu, kemudian mencuri kue nastar dan memakannya di siang hari saat bulan puasa, berbohong dan banyak hal lainnya. Setelah beranjak dewasa, aku mengajarimu memacari banyak laki-laki, matre, berbohong lagi, bersandiwara di depan orang tua maupun pacar. Tapi aku tak pernah mengajarimu untuk pergi dariku dan berubah menjadi orang lain yang tak pernah aku kenal. 
Tugasku, membesarkanmu. Menemanimu tumbuh dewasa bukan untuk seperti aku, tapi untuk menjadi dirimu sendiri. Dirimu yang jauh lebih baik dari aku. Masa-masa burukku hanya untuk jadi ceritamu, bukan untuk kau jadikan masa depanmu. Oh Tuhan, tak terasa air mataku mulai mengumpul di ujung mata. Sekelebat ingatan masa kecil kita membayang di pelupuk mataku. Sudahlah, seburuk apapun dirimu saat ini, aku tak punya alasan untuk tak memelukmu saat dirimu kembali dengan kelapangan hatimu, saudariku. 

2 komentar:

  1. Aku yakin setiap orang pantas bahagia dan bisa menemukan kebahagiaan itu. :)
    Tetaplah kuat, aku yakin dia juga memikirkanmu dalam hari-harinya. Itulah saudara

    BalasHapus

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER