Beberapa hari ini cuaca berhias mendung, tak terkecuali hari ini.
Aku langkahkan satu demi satu sepasang kaki ini. Gontai, tanpa semangat. Sejak
tadi pagi aku mencari pecahan semangatku yang hilang entah kemana. Akhirnya aku
putuskan untuk menuntun langkah menuju sebuah coffee shop yang menjadi
favoritku sejak pertama kuliah.
Aku buka laptopku, mulai menelusuri setiap jendela browser yang
terpampang di depan mataku. Satu-satunya yang ada di fikiranku adalah membuka
salah satu akun sosmedku yang aku miliki sejak SMA, facebook. Tiba-tiba aku
berfikir untuk membaca kembali setiap postingan yang aku buat sambil
mengingat-ingat setiap momen yang terjadi saat itu.
Rasanya geli sendiri membaca postingan yang aku buat, mulai dari
keluhan, berbagai ungkapan, bahkan sampai saat aku jatuh cinta. Satu degupan
kencang terasa tepat di dadaku ketika mataku terfokus pada sebuah postingan
foto. Aku bersama seorang yang ku sebut dengan “teman”. Iya, teman. Foto
tersebut kembali membawaku nostalgia ke masa-masa saat aku masih bersamanya.
Ah! Masa lalu memang selalu indah, itulah mengapa disebut dengan
kenangan.
Ragu, aku pandangi foto itu kembali setiap detailnya. Memberanikan
diri untuk membuka kembali memori yang hampir tersingkir dari ingatanku. Dalam
hitungan detik, ku ambil ponselku yang tergeletak di samping laptop. Mencari
nama seseorang dalam kontak dan lekas mengirim pesan. “Hai, apa kabar?”
sapaku.
Dulu, kami sering menghabiskan waktu bersama. Sampai pada suatu
hari, sesuatu terpaksa membuat kami membatasi pertemuan, bahkan komunikasi. Dan
akhirnya aku yang memutuskan lebih dulu untuk benar-benar
meninggalkannya.
Ponselku berdering, satu notifikasi pesan masuk. “Baik. Kamu?”
balasnya. Kemudian terjadilah percakapan sederhana melalui ponsel yang berujung
pada janji untuk melakukan pertemuan. Ya, kita akan kembali bertemu hari
ini.
Dari tempat aku duduk, terlihat sebuah mobil yang sangat aku kenal
terparkir di depan coffee shop. Dadaku kembali berdetak sedikit lebih cepat,
aliran darahku terasa deras mengaliri setiap pembuluh darah dalam
tubuhku. Kudapati seorang laki-laki duduk di hadapanku, laki-laki yang sangat
aku kenal tatapannya, senyumnya, harum tubuhnya, dan sangat aku rindukan.
Obrolan-obrolan kecil pun terjadi sore ini. “Tuhan, aku mohon perlambatlah waktu.
Aku masih sangat merindukannya” doaku dalam hati.
Hujan tak juga reda. Ajakan untuk menumpang pun terlontar dari
mulutnya. Akupun tak bisa menolak, bukan hanya soal rindu tapi aku memang tak
punya alasan lain. “Oh iya, mampir ke apartemenku sebentar ya. Ada sesuatu yang
harus aku kembalikan kepadamu” selanya sambil memasang seat belt di tubuh
tegapnya. “Okay” jawabku singkat.
Aku sangat menikmati perjalanan ini, berdua, menembus hujan kota
Jakarta. Detik-detik ini sangat berharga bagiku karena tidak akan ada lagi
pertemuan yang terjadi antara aku dan dirinya. Ini kesepakatan kami untuk
benar-benar menjalani hidup masing-masing. Meskipun hati sama-sama tertoreh
luka, kami tidak punya alasan lain untuk tidak bahagia. Meskipun besar
keinginan untuk kembali bersama seperti dulu, namun disana ada hati milik orang
lain yang harus sama-sama dijaga.
Kami memasuki sebuah gedung yang memiliki puluhan lantai, wangi khas
dan suasananya tidak pernah berubah. Dan lagi-lagi memori itu membawa pikiranku
sibuk dengan masa lampau, masa saat kita masih bersama. Ku sentuh setiap
dinding yang aku lewati, sampai pada satu unit ruang minimalis yang menyimpan
banyak cerita di dalamnya.
Pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, tak pernah berubah. “Kita
yang berubah, bukan ruangan ini” kalimatnya mengaburkan konsentrasiku. Kedua
tangannya menggamit tangan kecilku, kemudian menautkan jari-jariku di sela
jari-jarinya. Aku hanya bisa terpaku, menatap dalam-dalam matanya, seakan
mencari sesuatu yang tak mungkin kembali.
Tak kuasa menahan diri, kalah oleh dinding rindu yang kian membiru,
Run memelukku dengan erat, aku hirup wangi tengkuknya dalam-dalam seperti yang
dulu sering aku lakukan. Sangat mungkin ini pelukan terakhir darinya, tak akan
aku sia-siakan detik-detik ini. Perasaan itu kembali mencair.
Aku terduduk di sofa untuk sedikit menenangkan emosi yang baru saja
keluar, emosi dalam bentuk kebahagiaan. Run menghampiriku dengan membawa
sesuatu yang dulu aku tinggalkan disini, gitarku. “Ini gitarmu, maaf baru
sempat aku kembalikan. Aku sudah tak sanggup memetiknya lagi, karena sangat
menyakitiku setiap mendengar petikan nadanya. Saat itu juga aku selalu
merindukanmu dan petikan indah jari mungilmu” begitu penjelasannya.
“Terima
kasih, saat ini pun aku tak mampu lagi untuk memetik gitar yang kini tanpa senar,
untukmu.."

0 komentar:
Posting Komentar