Sampai Jumpa Musim Rindu

Hujan malam datang lagi, cukup deras dalam perjalananku hingga menarik diriku kembali ke waktu beberapa tahun yang lalu, tepat di hari ini. Ah, wangi hujan ini sangat aku rindukan setelah kemarau panjang yang mengeringkan. Aku menyukainya, seperti aku menyukai wangimu yang membuatku rindu di setiap harinya. Aku memiliki banyak sekali waktumu, dirimu, hadirmu, juga termasuk pergimu di hari ini. Setiap pagi kulihat dirimu yang terkadang masih terlelap atau sekedar menggeliat menghindari sinar matahari pagi yang menyusup melalui celah tirai. Sempurna pada saat itu bagiku, meskipun sering kali aku sok tahu dengan takdirku sendiri yang mendesak ingin bersamamu. 

Kenangan memang selalu indah ketika  dikenang. Semua terasa sangat manis seperti mustahil akan terasa pahit walaupun sedikit saja. Aku lalui semua dengan baik layaknya ujian sekolah, aku lakukan dengan sempurna walau dihadang beberapa kendala. Bukan masalah besar bagiku jika hanya harus menerima kenyataan bahwa kita berbeda, hanya karena latar belakang hidupku yang tak bisa mereka terima. Yang aku yakini bahwa aku, kamu dan kita bisa melaluinya perlahan. Aku anggap ini hanya batu sandungan yang tidak seberapa. Aku bertahan, dan kamu memilih untuk menyerah sayang. Aku tetap bertahan walaupun sendiri, aku berjuang walaupun sendiri, aku menantang takdirku sendiri. Dan kamu memilih tidak.  

Sampai pada suatu hari yang sudah tak bisa aku ingat lagi, kau memilih diam ketika melihatku bergelut dengan kemauan kita. Tidak satu langkahpun yang kau ayunkan untuk maju. Aku pikir kau hanya sekedar ingin tau seberapa jauh aku berani melangkah mendahuluimu. Tapi itu hanya sanggahan untuk menenangkan diriku yang terlalu takut kehilangan.

Baiklah, aku mulai berfikir realistis saat ini, tidak lagi imajinatif seperti yang kau tanamkan selama ini. Tidak lagi berkhayal-khayal bahwa kita akan memiliki keluarga sempurna seperti yang kau inginkan selama ini, tentang semua mimpimu yang tidak bisa tertuang.  Coba ingat, harapanmu sungguh setinggi langit. Tapi ingatlah bahwa diatas sana tidak ada pegangan.

Aku menantang tempaan rasa sakit dengan segala kekuatan  yang masih aku punya. Tak apa, aku hanya ingin tahu seberapa kuat aku melangkah. Sampai akhirnya aku menyerah dengan sendirinya, menyadari bahwa apa yang aku lakukan hanya kesia-siaan belaka. 

Yang tidak bisa menjadi milikku karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik, ini mutlak salahku. Dan yang tidak memperjuangkan aku sehingga aku menyerah, ini mutlak salahmu. Sedangkan salah kita, kita tak ingin bertahan lebih lama.  

Aku tidak akan menyuruhmu memandang langit biru, awan putih atau menunjuk bulan dan bintang jika rindu datang menghajarmu. Aku hanya ingin kau sekedar mengingat hari dimana kita bersama, meskipun mungkin ingatan itu sudah kita sembunyikan di sudut yang paling gelap, bahkan melupakannya dengan sengaja. Kita tetap melangkah di kehidupan masing-masing, kita tetap melangkah bersama, hanya jalan yang kita lalui terlampau jauh bersimpangan.  Kutandai hari ini sebagai pengingat bahwa aku pernah berjuang untuk sebuah nama yang hanya diam melihatku berjuang dan bertahan.

Selama beratus hari yang kita lewati, yang semesta inginkan hanya agar aku bertahan. Ditempa berkali-kali layaknya keris, hingga suatu hari nanti aku menjadi layak atas seseorang untuk memilikiku. 

Aku berjanji, suatu hari akan kuceritakan semua hal baik tentangmu kepada anak cucuku yang kelak akan ada. Kuceritakan betapa resah setiap langkah kaki yang aku ayunkan dengan berbagai keputusan yang sulit kala itu. Adalah kau, seseorang yang membuat mengerti bahwa jika tidak ada takdir sebelumnya, maka kita tidak akan dipertemukan. Mungkin saat ini Tuhan sedang tersenyum melihatku, padahal aku tak bosan mencacinya karena memberiku jalan yang serumit ini. Kini, aku begitu memuji cara-Nya mempertemukan kita walau tidak untuk selamanya.


Sepeninggal perjalanan kita, aku biarkan duka melarungkanmu pada tawa yang sejenak singgah.  Sepeninggal perjalanan kita, aku kirimkan embun pada sudut pagi agar sejuk bening bias surya menyusup. Di penghabisan, kutitipkan salam pada musim rindu yang akan datang bertandang tanpa memberi salam. Tuhan aku mohon, peluk aku malam ini sampai mataku terpejam dan tak terbangun lagi karena pelukMu yang mendamaikan.


Untukmu, dariku
-Wine-

0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER