Malam itu, sekitar pukul 22.30 aku baru berniat untuk memejamkan
mata. Tapi gagal karena ponselku menarik perhatianku untuk menyentuhnya,
kemudian sibuk dengan layar tanpa tombol itu. Aku bosan sebenarnya dengan
liburan seperti ini, liburan tanpa persiapan. Jempolku mengusap layar yang
membawa aku masuk ke salah satu akun sosmedku, Tinder! Ah sudah agak lama aku
tidak membukanya.
Aku mulai memainkannya, tugasku hanya mengirimkan tanda “love”
untuk foto laki-laki yang menurutku menarik. Sesimpel itu memainkannya, dan
sosmed jenis ini membuatku merasa menjadi perempuan yang di sukai banyak
laki-laki. Sudahlah, ini hanya selingan saja sebenarnya. Kemudian jempolku
berhenti saat sebuah foto muncul di layarku, laki-laki dengan kacamata hitam
khas Boboho, berkumis dan berjanggut sangat tipis. Wah, lucu sekali orang ini
pikirku. Secara otomatis jempolku mengusap tanda “love” yang terpampang pada
layar ponselku. Match! Ternyata ia sudah melihat profilku dan mengirimkan
“love” pada salah satu fotoku.
Kemudian ia
mengirimkan sebuah pesan untukku, isinya hanya mengomentari salah satu foto
yang baru saja aku upload. Percakapan pun berlanjut sampai kami memutuskan
untuk bertukar nomor ponsel. Singkat dan menyenangkan sekali rupanya anak ini.
***
Bosan sekali aku dengan liburan kali ini, tak seperti biasanya.
Cuaca yang belakangan ini selalu mendung pun seakan mendorongku pada jurang
kemalasan yang terletak di kasur sedang aku singgahi saat ini.
Satu notifikasi SMS masuk ke ponselku. “Nonton yuk..” begitu
tulisan yang muncul di layar ponselku. Wah, lumayan nih ada yang mengajakku
pergi nonton di saat uang bekalku terbatas. “Boleh, kapan?” Balasku. “Besok
sore ya, sekalian tolong kirim alamatmu. Kan masih dekat sini juga toh”
balasnya dengan aksen khas orang jawa. Baiklah, kemudian aku tidur dengan
perasaan lumayan senang.
Karena penginapan yang aku tinggali agak sulit ditemukan, kami
sepakat untuk bertemu di gang masuk ke penginapan ini. Well, harap-harap cemas
pun mulai mendera. Biasalah, namanya juga mau ketemuan sama orang baru, semoga
saja ia tak berniat ingin menculik perempuan bertubuh mungil yang hobi
menyusahkan orang lain ini.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depanku. Seorang
laki-laki bertampang cupu menurunkan kaca mobil dan menyapaku. Singkatnya,
kemudian kami menuju sebuah bioskop terdekat dari tempat kami bertemu tadi.
Sepanjang perjalanan terjadi rangkaian introgasi yang dilakukan oleh dua anak
muda yang baru saling kenal. Untungnya laki-laki yang aku lupa namanya ini
memiliki karakter yang tidak biasa, lucu dan lumayan membuatku tertarik.
Ternyata tiket untuk film terbaru yang baru saja ingin kami
tonton sudah terjual habis, sial! Dan di saat terasa gelembung di perutku mulai
berbunyi, cowok yang mengaku dirinya keren itu mengajakku makan di sebuah kafe
dengan menu utama pasta. Tak pakai basa-basi, langsung aku iya-kan ajakannya.
Pas!
Kali ini hanya baku diam yang terjadi. “Sini lho tangannya,
pegangan aja. Nanti kamu jatuh..” sambil tangannya mencari tanganku di ujung
jaketnya. Siapa perempuan yang tidak meleleh ketika diperlakukan seperti itu?
Keesokan harinya, kami membuat janji untuk bertemu kembali. Tak
apalah, sudah lama juga tak ada yang mengajakku seperti ini. Lumayan juga ada
teman ngobrol dari pada aku bingung sendiri, walaupun hanya sekedar menonton
DVD dan membuatkan mie instan untuknya. Setidaknya liburan menjadi tidak
sia-sia. Aku sadari, memang ada rasa yang tak biasa muncul di dada ini.
Entahlah, mungkin hanya perasaan sesaat. Jujur saja aku akui, aku memang mudah
menyukai laki-laki. Tapi tak semudah itu aku jatuh cinta. Semoga saja ini hanya
efek karena ia adalah laki-laki yang memiliki karakter yang berbeda.
Pada hari ke-3 aku mengenalnya, kami sepakat untuk bertemu lagi
dan pergi ke pantai. Setelah bersiap, ia pun menjemputku. Sepanjang perjalanan
kami mengobrol tentang apapun, nampaknya cowok beralis tebal ini sudah mulai
membuka diri kepada perempuan asing yang duduk di sebelah kursi kemudinya.
Sial! Perjalanan yang lumayan jauh ini membuatku semakin nyaman dengannya. Bahkan
aku tak begitu hapal namanya, tapi rasanya seperti sudah lama sekali aku
mengenalnya. Entah bagaimana Tuhan sampai membuat skenario seperti ini.
Wangi pantai mulai tercium, sudah dekat rupanya. Setelah mobil
terparkir sekitar 100 meter dari bibir pantai, aku semakin tak sabar
menginjakkan telapak kaki di atas pasir putih pantai Indrayanti. Sebuah pantai
yang berujung laut lepas, cukup jauh dari kota Yogyakarta dan tanpa signal.
“Yuk!” sebuah tangan cowok berkaca mata hitam menggandeng tanganku. Aku tak menepis,
aku membiarkannya begitu saja.
Puas menambah koleksi foto di ponselku, kami kembali menyusuri
bibir pantai, saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku menangkap
sebuah tatapan dari matanya, tatapan kesepian. Sebuah pendopo beratap daun rumbia
menjadi tujuan langkah kami untuk memesan sebuah es kelapa segar. Kembali
bercerita, begitu dekat, bahkan aku dapat mengingat setiap inci garis wajahnya.
Mungkin tanpa arti setiap ia menggenggam tanganku, menatap mataku, memanjakanku
sampai pada pertemuan di hari ke-3 ini. Tapi tidak untukku, tidak semudah itu
seharusnya aku menjadi perempuan yang berharap terlalu dalam. Hanya
tatapan kesepian itu yang mungkin bisa menjawab mengapa dengan tiba-tiba ia
datang kepadaku, mengajak bepergian, menghabiskan uang dan selesai begitu saja.
Okay, sebelum sampai di kota kami mampir di sebuah tempat yang
sangat indah. Orang-orang menyebutnya “bukit bintang”, tempat ini menawarkan
pemandangan keindahan lampu kota ketika malam tiba dari dataran tinggi
Yogyakarta. Dengan ditemani secangkir coklat hangat dan hidangan makan malam.
Sungguh, sepanjang sejarah aku memiliki kekasih, rasanya tak pernah seromantis
ini! Entah bagaimana cowok ini bisa memperlakukan perempuan yang baru dikenalnya
dengan sangat manis.
Aku rasa kisah bukit bintang ini hanya berakhir
sampai di hari ini, sebelum aku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan
kehidupanku yang tertunda.
Yang terakhir aku ingat hanya sebuah tato kecil
bertuliskan nama di tangan laki-laki yang kini berada di hadapanku, yang
berarti “Anak Matahari”. Terima kasih wahai Anak
Matahari yang sudah menemaniku, semoga suatu saat kami dipertemukan kembali
suatu saat nanti.

oooohh...
BalasHapus