Buat Pekerja, Dilarang Baca


Pernah ga kamu ngerasain beban yang berat saat harus pergi bekerja? Kalo kamu ga pernah ngerasain itu, sebaiknya ga usah dilanjutin baca tulisan dari anak kecil yang hampir nyerah karena lingkungan pekerjaan.
Terlepas dari statement kalo bekerja itu wajib hukumnya untuk menyokong kebutuhan hidup, tapi untuk apa kalo pada akhirnya bekerja hanya membuatmu merasa disiksa walaupun di tubuhmu tidak ada bekas luka. Aku mengaminkan bahwa memang banyak diluar sana yang tetap menjalani pekerjaan dengan rasa beban, itu pilihan. Karena tidak ada lagi pilihan lain selain melakukannya. Sebagian orang memilih kembali pulang, bukan karena mereka sudah mapan dan berkecukupan. Tapi merasa sudah cukup untuk berjalan sampai titik penghabisan.
Bukan hanya makanan sehari-hari yang menjadi penentu kesehatan, pekerjaan juga memiliki andil dalam menentukan kesehatan. Ya, kesehatan mental. Bagi beberapa orang, mungkin ini bukan hal yang penting untuk dibahas. Tapi untukku, ini penting untuk disampaikan kepada kalian yang mungkin mengalami masalah yang (mungkin) sama.
Kondisi lingkup pekerjaan yang semakin kecil, justru semakin besar menimbulkan gangguan mental. Pengikisan kepercayaan diri, membuat diri merasa terisolasi, kehilangan motivasi dan beberapa gangguan yang diakibatkan oleh lingkungan pekerjaan. Orang bilang “ah itu elo aja yang ga bisa adaptasi sama lingkungan..” No! Justru kondisi lingkunganlah yang menentukan mudah atau tidaknya kita untuk beradaptasi. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Ingat? Se-introvertnya pribadi seseorang, tidak akan sulit untuk beradaptasi apabila lingkungannya menerima kehadirannya dan memberikan treatment yang baik sesuai dengan karakternya. Kecuali kalo orang tersebut adalah orang super jenius yang ga bisa bersosialiasi karena temenan sama komputer dengan teknologi canggih kayak cerita di film-film masa depan, jangan harap ia bisa berinteraksi sosial dengan baik.
Berdasarkan data Departemen dan Federasi Industri Inggris, diperkirakan 15-30% pekerja pernah mengalami gangguan jiwa, minimal satu kali dalam masa kerjanya. Persentase populasi yang mengalami gangguan jiwa di berbagai negara antara lain Brasil 36,3%; Kanada 37,5%; Belanda 40,9%; Amerika 48,6%; Meksiko 22,2%; dan Turki 12,2%. Bahkan diperkirakan dua persen dari seluruh penduduk dunia menderita gangguan jiwa berat. Indonesia belum memiliki data tentang gangguan mental di tempat kerja, karena mungkin belum ada penelitiannya hehehe.
Dari sebuah artikel, perusahaan-perusahaan di Indonesia pun sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah mengalokasikan dana untuk peningkatan kesehatan jiwa pekerja. Jaminan kesehatan secara umum yang biasanya tidak bersifat optimal, tidak dapat mengatasi masalah kesehatan jiwa ditempat kerja.
Padahal kondisi kesehatan dan kesehatan jiwa bersifat tidak terpisahkan dan berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga di 11 kota pada tahun 1995, ditemukan 185 penderita gangguan jiwa dalam populasi 1000 penduduk Indonesia.
Berdasarkan data diatas, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara gangguan mental yang disebabkan oleh stres kerja. Coba baca pelan-pelan ulasan dibawah ini:

Stres!
Stres adalah respon fisiologis, psikologis, dan tingkah laku seseorang sebagai upaya untuk beradaptasi dari tekanan eksternal maupun yang disebabkan oleh kondisi atau peristiwa yang mana menyebabkan orang merasakan keadaan tersebut (stressor). Munandar mengemukakan stres kerja merupakan interaksi antara kondisi kerja dengan karakteristik pekerja yang menghasilkan tuntutan kerja melampaui sumber daya pekerja dan berdampak negative bagi kesejahteraan diri individu tersebut. Inti dari penyebab strss kerja ini adalah ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan sehingga menimbulkan tekanan.
Faktor-faktor ditempat kerja  (eksternal faktor) seperti peran yang tidak jelas, hubungan dengan atasan/teman kurang serasi, pengupahan yang tidak sesuai, beban kerja yang terlalu banyak, terhambatnya karier, bentuk atau jenis pekerjaan, kebisingan dan tata ruang kerja dan sebagainya merupakan sumber stres atau stressor kerja. Tidak hanya faktor ekternal, namun faktor internal dari individu juga mempengaruhi stres kerja antara lain dari karakteristik individu sendiri yaitu; pola kepribadian, kecakapan dan keterampilan, locus of control, serta nilai dan kebutuhan. Selain itu faktor eksternal yang juga mempengaruhi stess kerja yaitu; kehidupan keluarga, umur dan tahap kehidupan. Dan stres kerja ini berdampak juga ke gangguan-gangguan psikologis lain, yaitu:

·      Kecemasan
Individu dapat mengalami kekhawatiran yang berlebihan akibat stres kerja ini. Misalnya pekerjaan yang menumpuk atau beban kerja yang berat yang harus diselasaikan dalam waktu yang singkat membuat individu merasa khawatir tidak mampu memenuhi tugasnya tersebut dan dapat berefek terhadap kedudukan atau kinerjanya di dalam pekerjaan yang didudukinya. Karen hal seperti yang dicontohkan diatas indivisu tidak dapat berkonsentrasi atau fokus dalam melakukan tugasnya, sukar untuk tidur, dan dapat juga mengakibatkan individu menjadi mudah tersinggung.

·      Sindrom Depresi
Seseorang yang terlalu akut tingkatan stresnya akan bisa naik ke tingkat depresi ini. Tuntutan-tuntuan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan, hubungan antar pribadi yang tidak harmonis dengan atasan atau teman, atau persaingan yang kompetitf ,di lingkungan kerja akan mengakibatkan seseorang mengalami kecemasan, yang kemudian meningkat ke tingkat stres dan meningkat lagi ke tingkat depresi yang mana gangguannya lebih kompleks lagi. Seseorang yang mengalami depresi sulit untuk bekerja produktif dan efektif  lagi, selalu merasa murung dan rendah diri, pesimis terhadap hasil yang akan ia terima, sulit berkosentrasi, dan mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang sekitarnya dan bahkan menarik diri dari pergaulan sosialnya.

·      Gangguan Somatoform
Merupakan ganguan dimana seseorang tidak mengalami gangguan fisiologis yang jelas namun ia merasakan hal tersebut dan melebih-lebihkannya. Adapun cakupan dari gangguan ini adalah hipokondriasis dan nyeri psikogenik.

·      Gangguan Psikosomatik
Merupakan gangguan fisiologis yang diakibatkan oleh factor-faktor psikologis. Stres adalah penyebab utama gangguan ini. Orang yang sedang mengalami stres kerja rentan akan mendapatkan penyakit maag, asma, migrain, hipertensi, dan  kardiovaskular. Selain itu stres kerja juga berdampak terhadap reaksi perilaku individu tersebut, yaitu:
Tekanan-tekanan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak mampu diiatasi oleh individu maka akan berdampak pada pola perlaku individu tersebut. Individu yang mengalami stres cenderung untuk mengkonsumsi rokok, alcohol, serta obat-obatan terlarang sebagai bentuk pengetasan masalah yang dihadapinya. Suatu kumpulan gejala lesu kerja (bornout syndrome) juga sering ditemui pada pekerja yang mengalami stres kerja yang tidak dikoreksi.

Coba balik lagi ke pertanyaan di paragraph pertama. Mungkin salah satu penyebabnya ada di uraian dalam tulisan ini. Ada sebuah quotes yang bunyinya “If you are unhappy, change something. Quit your job. Move. Leave your miserable relationship. Stop making excuses. You are in control.”
Kamu berhak hidup dan bekerja dengan nyaman, dengan begitu potensi dirimu akan lebih berkembang. Jangan coba untuk bertahan lebih lama dengan kondisi lingkungan yang menyulitkan dirimu untuk berkembang, karena itu hanya akan membentuk karaktermu sesuai dengan lingkunganmu. Gampangnya, lingkungan dimana kita berada akan membentuk karaktermu dengan mudah. Misalnya, kalo kamu ada di lingkungan penggosip maka tidak menutup kemungkinan bahwa kamu akan membawa karakter "penggosip" tersebut di kemudian hari. Tau kenapa? Karena setiap hari kita berada di lingkungan tersebut dan berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku penggosip. Meskipun diri menolak mentah-mentah, percayalah dengan sengaja atau tidak sengaja kamu bakalan ketularan. Atau kamu merasa tidak dihargai oleh orang lain atas pekerjaanmu, mungkin itu tidak membuatmu melakukan hal yang sama dengan tidak menghargai orang lain. Tapi membuatmu menyerah, hilang motivasi dan pada akhirnya kamu tidak berkembang dan mengubur potensi dirimu dalam-dalam. Manusia itu mudah dibentuk dengan lingkungan, mudah dipengaruhi berdasarkan apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan. Gawat! Pembunuhan karakter ini namanya. 
So, jangan takut untuk melangkah karena harus meninggalkan apa yang sudah kamu jalani dengan berat. Kamu harus melakukan perubahan positif dengan menjadi dirimu sendiri, bukan dengan menjadi orang lain atau mengikuti kemauan orang lain dengan rasa tidak nyaman dan dikelilingi stres sehingga menimbulkan gangguan mental (amit-amit deh!).  Kamu yang paling mengetahui siapa dirimu dan seberapa besar kemampuanmu. Use your power!




DAFTAR PUSTAKA

Zulkarnain, 1998, Thesis tentang Hubungan Antara Stress Kerja dengan Gangguan Emosional. Jakarta : Universitas Indonesia



0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER