Papa, Jangan Menangis Lagi

Hari ini dan hari-hari belakangan ini aku merindukan Papa. Entah ini rasa bersalah atau memang rindu. Sepertinya dua-duanya. Aku merasa bersalah karena tak segera pulang untuk menemui Papa. Aku masih sibuk dengan tanggung jawabku terhadap satu bundel laporan skripsi yang belum juga aku selesaikan di menjelang akhir semester ini. Selain itu juga aku masih sibuk dengan pekerjaanku sebagai Customer Service di sebuah perusahaan milik pribadi yang masih berkembang.
Hari minggu, seharusnya aku berada dirumah bersama dengan Papa. Tapi hari ini pikiranku masih disibukkan dengan revisi yang belum juga aku selesaikan.
Pa, sore ini aku akan pergi menemui salah satu dosen favoritku. Aku memanggilnya Mas Gara. Disebuah tempat makan ala Jepang dan kami akan sedikit berdiskusi tentang skripsiku yang kini sudah mulai memuakkan otakku.
Mendadak di sepanjang jalan menuju lokasi janjian kami, aku ingat Papa. Aku rindu Papa. Jarak kita hanya 1,5 jam, tapi rasanya terpisah sangat jauh. Aku menyesali perbuatanku yang tak berusaha menemuimu.
Sejenak aku ingin bernostalgia, mengingat Papa yang mungkin saat ini masih sibuk dengan pekerjaannya kantor. Maaf, aku hanya sanggup menyampaikan ini hanya melalui tulisan yang mungkin tak akan papa temukan di sosial media. Karena aku tahu papa tak begitu akrab dengan dunia sosial media, kecuali aku meninggalkan catatan ini dikamarku. Dikamar yang biasa papa kunjungi ketika merindukan aku. Iya kan?
Tak pernah lepas dalam ingatanku semua tentangmu, Pa. Papa ingat ketika menjambak rambutku ketika aku malas mandi sore? Aku masih ingat. Tapi sekarang mungkin Papa sudah bosan untuk menyuruhku mandi, dan aku tetap malas mandi sore.
Papa ingat kita pernah membahas bersama soal sebuah rumah tangga? Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Aku merasa saat itu papa menganggapku sudah dewasa. Rasanya sudah lama sekali kita tidak pernah menghabiskan waktu sebanyak itu di malam hari.  Lama sekali. Tapi aku senang.
Aku yakin, seorang anak perempuan didunia ini hanya merasa jatuh cinta kepada satu orang, yaitu ayahnya. Karena ayah tak pernah benar-benar berniat menyakiti anak-anaknya. Tapi entah kenapa banyak anak perempuan yang menitikkan air matanya untuk laki-laki lain, bukan untuk ayahnya. Aku pun pernah begitu, Pa. Maaf.
Berbicara soal tangis menangis, Papa pasti sudah bosan melihatku menagis didepan Papa. Menangis karena tak diberi izin pergi berkencan, karena tidak diberi tambahan uang jajan, bahkan karena kucingku Benji mati. Tapi sore ini, aku menangis karena rindu Papa, dan karena sampai saat ini aku belum bisa membahagiakan Papa.  Paling tidak membawa kabar bahwa skripsiku telah selesai.
Masih aku ingat jelas ketika Papa menangisiku kurang lebih 12 tahun yang lalu. Menangisi aku yang sedang sekarat di ruang ICU karena kelumpuhan yang menyebabkan paru-paruku tak mengembang dan kemudian gagal jantung. Aku memang tidak sadar, tapi aku melihat Papa dari atas sini. Di sebuah batas antara bumi dan langit dan diantara takdir yang sedang mempermainkan nyawaku. Melihat Papa yang berusaha menahan air mata dibalik tirai ruang ICU yang berwarna biru. Ketika Tuhan mengembalikan nyawaku ke dunia, di hari-hari berikutnya aku mulai sering mendengar lantunan do’amu ditelingaku yang untungnya tidak lumpuh. Ya, Papa pernah mengikhlaskanku, berkali-kali. Mungkin bukan karena tak lagi sayang padaku, tapi karena Papa terlalu sayang. Padaku, tak ingin melihat Putri kecilnya tersiksa dalam ketidakpastian Tuhan.
            Tuhan juga sayang Papa, Tuhan masih mempercayai Papa untuk merawatku dan mendidikku sampai detik ini. Sampai aku menulis ini untuk Papa.
Maaf Pa, aku pernah membuatmu menangisiku berkali-kali karena dipermainkan oleh takdir.
Kemudian setelah aku ditakdirkan untuk tetap hidup dengan kedua kaki yang lumpuh, Papa kembali menguatkan aku. Mengajariku berjalan dengan kedua kakiku yang kini tak sekuat dulu, menenangkan aku yang tak sanggup menerima kenyataan, mengantarku pergi berobat ke banyak rumah sakit bahkan pengobatan alternatif. Sungguh besar hatimu, Pa. Tak terbayang pengorbananmu untukku, Pa.
Hanya Papa yang tak pernah malu berjalan berdampingan denganku, dengan anak perempuan yang kedua kakinya tak bisa melangkah dengan sempurna. Belum tentu orang lain bisa menerimaku seperti papa yang tak malu memilikiku. Mungkin itu sebabnya beberapa orang harus berpikir ribuan kali untuk berteman denganku. Sedih sekali rasanya. Padahal aku tak seburuk itu. 
Papa adalah satu-satunya laki-laki dengan gengsi paling tinggi diantara laki-laki lainnya. Dulu sewaktu kecil, Papa tidak begitu. Papa berubah ketika aku beranjak dewasa. Tak pernah lagi menghadiahiku dengan hadiah mewah ketika aku mendapatkan sebuah prestasi disekolah atau kampus. Aku sadar, itu bagian dari didikanmu. Terakhir yang aku ingat ketika Papa menghadiahiku sebuah sepeda BMX saat aku memenangi lomba Calistung tingkat SD. Kemudian tak pernah lagi.
Aku akui, aku kesal karena prestasiku tak dihargai oleh Papa. Tapi itu dulu. Setelah aku pikir-pikir, papa mendidikku agar tidak menjadi anak berprestasi yang haus akan pujian. Iya, aku sekarang menyadari itu.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai melanggar aturan-aturanmu. Mulai pulang malam, mulai mengenal pergaulan bebas, berbohong, ikut-ikutan balap motor liar, pergi keluar kota tanpa sepengetahuan Papa dan banyak lagi. Tapi tenang saja, aku tak pernah menguntit uang bayaran kuliahku. Ah, banyak sekali dosa yang aku lakukan kepada Papa.
Tak pernah putus do’aku untuk Papa, agar Papa senantiasa diberikan kesehatan. Agar aku bisa membuat Papa bahagia di usia Papa yang kini sudah tak muda lagi. Di usia yang kini membuat Papa sudah tak sanggup lagi melangkahkan kaki di anak tangga hanya untuk pergi ke kamarku, membangunkanku untuk shalat subuh. 
Terakhir aku melihat Papa menangis saat momen lebaran kemarin, ketika aku sungkem dan meminta restu agar aku dimudahkan dalam segala urusanku. Memelukku, kemudian mengecup keningku. Sayang sekali, aku hanya merasakan ini satu tahun sekali.
Maafkan aku yang hanya menghubungi Papa ketika uang jajanku habis atau sekedar mengingatkan batas waktu pembayaran uang kuliahku. Maafkan aku Pa, aku tak punya banyak waktu untuk menemanimu dirumah, walaupun hanya sekedar mengobrol atau membantumu mengurusi burung peliharaanmu dirumah. Bukan.. Bukan aku tak mau membantumu. Aku hanya harus mengorbankan waktu luangku demi tanggung jawabku untuk mendapatkan gelar sarjana, seperti yang Papa inginkan.
Aku mohon, Papa jangan menangis lagi untukku. Air mata yang menetes dari ujung matamu hanya menyakitiku, Pa. Justru aku yang seharusnya menangisi penyesalanku yang tak punya waktu untuk Papa. Aku tak sanggup menyampaikan rinduku melalui telepon, hanya bisa membungkus semua rindu ini menjadi sebuah doa untuk Papa.
Suatu saat akan aku buktikan, bahwa Papa adalah pendidik paling baik, laki-laki yang tak pernah menyesal memiliki anak perempuan sedikit ngeyel dan keras kepala sepertiku.
Apa Papa selalu mengkhawatirkanku? Ah, pertanyaan bodoh! Jelas papa mengkhawatirkanku, buktinya Papa selalu menelepon dua hari sekali meskipun melalui suara Mama. Tenang Pa, aku baik-baik saja disini. Dan papa tidak perlu khawatir aku dijahati orang lain, karena aku berada ditengah-tengah orang yang mau berbaik hati padaku.
Tak terasa aku hampir sampai ditempat janjian dengan dosenku, ternyata aku menangis didalam helm. Bukan karena penyesalanku, tapi karena rindu Papa dan tidak bisa bertemu. Papa tidak percaya? Tanyakan saja pada petugas parkir yang menegurku tadi, mengira aku kehilangan sesuatu kemudian menangis. Benar, aku merindukan Papa. 




0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER