Ranum dan Sepeda Motornya



Aku dan Ranum dipertemukan dalam kelas pertama perkuliahan. Kami sama-sama belum mengenal siapa-siapa. Tugas kelompoklah yang kemudian membuat kami saling mengenal. Kemudian kami mulai banyak mengobrol, bercerita dan pergi bersama.
Ranum, perempuan berwajah blasteran Arab dan Pakistan yang cerdas, sederhana, lembut, polos dan sangat baik hati. Karena orang tuanya yang kini tinggal di luar kota, mengharuskan Ranum menyewa kost di sekitar kampus kami. Begitupun aku.
Kami menjadi sering bersama dan menghabiskan waktu bersama. Saat itu kami sangat dekat. Kesederhanaan dan kelembutannya membuat aku nyaman berada didekatnya. Aku menjadi sangat bergantung padanya. Kebetulan memang karakterku yang sangat mudah bergantung dengan orang lain, dan aku selalu membutuhkan teman karena sering merasa kesepian.
Aku memiliki sebuah sepeda motor yang diberikan oleh ayahku, sedangkan Ranum harus berjalan kaki atau menumpang kendaraan umum jika ingin pergi. Aku yang kesepian sering mengajak Ranum berjalan-jalan dengan sepeda motorku. Ah rasanya sangat senang sekali saat itu. Ranum pun sering memintaku untuk mengantarnya jika ingin pergi atau aku yang selalu memaksa mengantarnya kemanapun ia pergi. Aku khawatir sahabatku di jahati orang lain diluar sana jika menumpang kendaraan umum.
Perbedaan mulai terasa sejak ia memiliki sebuah sepeda motor pemberian Ibunya, sekitar satu tahun yang lalu. Kemudian Ranum lebih sering pergi dengan sepeda motornya, ketimbang aku antarkan. Aku merasa tak dibutuhkan lagi. Aku kehilangannya. Alasan apapun akan aku gunakan agar dapat kembali seperti dulu, berjalan-jalan bersama atau aku akan beralasan tak berani pergi sendirian agar bersamanya.
Semakin lama aku semakin melihat keakraban antara Ranum dan sepeda motornya, tak lagi mengajakku pergi ke warkop bersama, tak lagi mengajakku pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Yang ada hanya Ranum banyak menghabiskan waktu diluar sana tanpa aku, namun dengan sepeda motor yang kini sudah jadi sahabatnya. 

Ranum, aku merindukanmu. Sungguh. Hancur hati ini ketika jarak mulai tercipta antara kita. Aku tak marah padamu, aku hanya merasa sedikit kehilanganmu. Aku selalu merindukan setiap detiknya kebersamaan kita, seperti dulu.

Apa kau ingat ketika aku menangis saat mengantarmu yang ingin pulang kampung? Apa kau ingat saat aku selalu mencarimu ketika membutuhkan teman bicara? Apa kau ingat ketika kau begitu mengkhawatirkanku saat aku sakit? Apa kau ingat ketika hampir semua teman kampus menyebut kita “kembar”? Apa kau ingat saat kita menggunakan baju murah dengan model dan warna yang hampir sama untuk kekampus? Apa kau juga ingat saat kita berfoto dengan wajah jelek dan mirip cepot? Apa kau ingat saat aku mengajarimu bagaimana cara meretas akun facebook orang lain? Apa kau mengingat itu semua?

Ranum, memiliki teman sepertimu adalah pertemanan yang indah. Jika tak indah, aku akan melupakan begitu saja hubungan pertemanan ini. Aku merindukanmu, Ranum. Kini tak ada lagi Ranum yang menghentikanku ketika aku mulai mabuk, meledek aku karena cita-citaku yang ingin bekerja di Badan Intelijen Negara atau membicarakan penjaga kost yang hobi bertingkah aneh. Tak ada lagi tempat untukku bercerita dan mengakui setiap kejahatan yang aku lakukan kepada orang lain yang menyakitiku. Aku merindukanmu yang tanpa sepeda motormu.

Suatu hari, aku menyadari bahwa mungkin ada yang salah dalam pertemanan kita. Aku pikir akulah yang telah melakukan kesalahan. Aku sadar, aku yang mulai berubah dan menjauhimu. Karena aku cemburu. Apakah kau menyadari itu? Aku cemburu karena kau tak lagi mencariku untuk mengantarmu, tak lagi mengajakku pergi. Aku merasa tak lagi berguna, aku merasa tak lagi kau butuhkan, aku menarik diri dan berusaha menghindar sejauh-jauhnya darimu. Bukan karena aku tak mau lagi bersamamu, tapi aku terlalu sedih melihatmu dengan sahabat barumu si sepeda motor.

Ranum, berceritalah kembali kepadaku jika suatu hari nanti kita bertemu. Ceritakan tentang kebaikan sepeda motormu yang selama ini bersamamu dan menemanimu sepanjang perjalananmu. Percayalah, aku tak pernah benar-benar ingin menjauhimu atau bahkan menyakitimu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER