Bukan Tentang Hati yang Patah

Well, kayaknya dari hampir semua cerita soal patah hati yang aku baca,  sebagian besar diakhiri dengan kisah yang tragis, menguras emosi dan air mata. Mungkin beberapa bulan atau beberapa tahun kedepan, cerita tangis-tangisan itu bakalan tersingkir sama sungging senyum sinis atau tawa renyah sambil menahan malu ketika mengingatnya lagi.
Pernah dengar istilah “hal sekecil apapun patut kita syukuri”? Yap! Rasanya hari ini aku harus bersyukur sebanyak-banyaknya. Aku memang belum sepenuhnya keluar dari situasi patah hati yang aku derita selama beberapa bulan belakangan ini. Aku masih memelihara penderitaan ini dan memberikan treatment terbaik, agar aku terbiasa. Dan aku terbiasa. Setidaknya aku bisa bersyukur.
Aku masih berkutat dengan pekerjaanku dikantor ketika aku menulis cerita ini. Diiringi dengan lagu india “Humko Humise Chura Lo” yang disetel oleh salah satu karyawan dikantorku, cukup menciptakan suasana yang menyedihkan.
Sepanjang aku mengalami penderitaan sakit hati pasca mengetahui bahwa pacarku akan menikahi perempuan lain karena permintaan orang tuanya, aku mulai sakit-sakitan karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang diluar kuasaku. Tapi aku tidak mau semuanya berakhir dengan bunuh diri atau berusaha membunuh diri sendiri. Oh iya.. Ralat, bukan pacar. Tapi laki-laki yang kurang lebih dalam satu tahun setengah mengisi hidupku, tidak juga disebut pacar. Hanya teman, teman yang terlalu dekat. Atau seperti pacar “tanpa status” pacar. Ya, namanya Dafa.
Jadi, aku pernah berpikir bahwa aku akan menjadi perempuan yang mendadak jadi lemah dan sensitif karena ditinggal menikah dengan orang yang aku sayangi. Tapi tidak juga, mungkin hanya berlangsung beberapa bulan atau beberapa tahun dan kemudian kehidupanku berjalan normal kembali.  Dan yang paling parah adalah ketika aku mulai merasa “aku tak akan hidup bahagia tanpa dirinya, aku kehilangan semuanya”. Nah, hari ini, jam ini, detik ini juga aku nyatakan bahwa aku tidak sedang berada dalam kondisi terparah seperti itu.
Mengapa? Karena sampai saat ini aku masih baik-baik saja, yaaah.. hanya sedikit rasa sesak yang tak berarti. Aku mulai menata kembali hari-hariku yang agak berantakan karena masalah pernikahan dia yang sudah diambang mata. Aku mulai sedikit demi sedikit mengumpulkan tenaga di otakku untuk mengerjakan skripsi yang hampir selesai. Sedikit mengurangi intensitas bertemu atau berkomunikasi melalui media apapun dengannya. Kami hanya mengurangi, bukan benar-benar berhenti berkomunikasi, semua terjadi atas kesepakatan bersama. Kemudian menghabiskan banyak waktu dikantor, mencari teman baru dan bersenang-senang. Berusaha menyenangkan diri maksudnya.
Sedikit terbantu, tapi tunggu dulu. Rasanya ada yang salah. Ya, ada yang salah dengan caraku yang menghindar seperti ini. Justru aku semakin merasa kehilangan. Aku merindukannya. Hanya saja aku tak pernah bicara. Aku tak pernah bertemu dengannya sejak dua minggu lalu. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaanya sebagai director dan videographer, dan aku sengaja menyibukkan diri sendiri. Aku sengaja pulang kerumah, siapa tahu dengan kepulanganku dan bertemu dengan Mamaku bisa mengobati uring-uringan ini.
Mamaaaaa.. aku pulaaaaaaaang!!! Ibuku keluar dari pintu garasi, kemudian memelukku. Ternyata dari semua peluk yang pernah aku rasakan, hanya peluk rindu Mama yang paling mendamaikan. Sebut saja aku anak durhaka, yang hanya menelepon Mama karena sakit atau sedang patah hati dan menelepon Papa karena kehabisan uang jajan. Tetapi ketika bersenang-senang aku tak sedikitpun mengabari Mama atau Papa. Sedikit menyesal sih, aku memang anak durhaka tapi hanya sebagian diriku yang menjadikanku durhaka. Sebagian lagi aku adalah anak perempuan yang susah diatur tetapi selalu bisa memberikan IPK yang lumayan tinggi serta tak pernah membuat masalah di kampus. Hanya itu modalku agar tetap dipercaya oleh kedua orang tuaku untuk hidup bebas di luar rumah.
Dua minggu berlalu begitu saja, ternyata rindu ini memang tak mau pergi. Dan kami tetap irit berkomunikasi, selain hanya saling bertanya “kamu dimana?” atau “kamu lagi ngapain?”. Obrolan lainnya mungkin sudah dilakukan oleh calon istrinya.
Aku sudah menyusun agenda dari semalam. Pagi ini aku akan pergi ke kantor, kemudian mengurus paspor di kantor imigrasi, bimbingan skripsi ke kampus dan kembali ke kantor. Tapi semuanya berantakan karena aku bangun kesiangan. Tadi malam aku tidur terlalu larut karena menunggu Dafa, dia berjanji akan datang menemuiku setelah pekerjaannya selesai. Belakangan ini memang dia terlalu sibuk, mungkin sedang mengumpulkan rupiah untuk keperluan pernikahannya. Dan waktu tidak mempertemukan kita tadi malam. Yasudah, mungkin takdir akan mempertemukan kita di lain waktu.
Karena kesiangan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kampus untuk bimbingan, kemudian ke kantor imigrasi dan ke kantor setelah makan siang. Ternyata urusan di kantor imigrasi tidak lebih dari setengah jam dan waktu menunjukkan pukul 11.00, aku masih punya banyak waktu sebelum pergi ke kantor.
Spontan aku mengeluarkan handphone kemudian mengetik nomor yang sudah tidak asing diingatanku. “Halo? Kamu dimana?” dan jawaban di sebrang sana hanya suara malas orang bangun tidur. Tidak pakai pikir panjang dan tidak perlu dijawab panjang lebar pun aku sudah mengetahui keberadaan Dafa. Hhhhh.. Pasti dia baru bangun tidur.
Setelah mengeluarkan motorku yang terparkir di pelataran kantor imigrasi yang sesak, aku langsung menuju kost Dafa.
Seperti biasa, aku langsung saja nyelonong masuk ke bangunan kost yang berupa lorong-lorong ini. Sebelumnya juga sudah menyapa Si Mas Kecil, penjaga kostnya yang kebetulan tadi berpapasan di tangga denganku.  
Mengetuk pintu sudah tidak berlaku lagi untuk kita berdua, saking sudah terlalu biasa dan terasa tiada batas diantara kita, meskipun umurnya agak jauh berbeda denganku. Sudah ku bilang, dia sudah seperti teman tapi jauh lebih dalam dari sekedar teman. Dia sudah seperti pacar, mungkin juga lebih dalam dari sekedar pacar. Hubungan yang aneh!
Kini depanku hanya ada pemandangan Dafa dengan baju lengan buntungnya, boxer hitam dan wajahnya basah karena basuhan air. Tidak kurang dari lima detik peluk hangat dan kecup kecilnya mendarat di keningku, kemudian di bibirku. Hmmmhhh.. peluk dan usapan punggung ini yang menjadi jawaban ketersiksaanku.
Kenapa? Kalian ingin menyebutku cewek gampangan yang masih mau berhubungan dengan laki-laki yang pernikahannya akan dilangsungkan sebentar lagi? Sebut saja aku dengan apapun yang kalian mau. Aku punya alasan dan mungkin kalian tidak mengerti. Ingat! Kalian hanya membaca, bukan merasa menjadi aku.
Aku tak pernah merasa bersalah dengan tindakan yang aku lakukan, dan sepertinya Dafa pun tidak mempermasalahkannya. Kami sama sekali tidak pernah mempermasalahkan Dafa yang dinikahi dengan perempuan pilihan orang tuanya, atau bahkan membahasnya. Karena aku tahu, membahas masalah itu hanya akan menambah beban yang ditanggung Dafa saat ini. 
Sulit mempercayai ini semua, bahkan tak ada sedikitpun benci yang tercipta. Ketika merasa rindu, kita akan saling bertemu. Tidak ada yang berubah. Ketika berusaha saling menjauh, yang ada hanya saling berusaha mendekat. Bahkan disaat Dafa sudah harus memikirkan perempuan itu.
Aku tak melarang kalian untuk menyebut ini dengan hubungan yang tidak baik. Memang kenyataannya seperti itu. Aku berhubungan dengan laki-laki yang berbeda sekitar 13 tahun denganku dan akan dijodohkan dengan perempuan lain oleh orang tuanya. Ada banyak hal-hal yang tidak kalian ketahui, karena kalian hanya membaca, bukan merasa seperti aku. 
Sepertinya aku pernah terlalu takut kehilangan seseorang, kehilangan tempat ternyaman yang aku punya. Tapi kini tidak lagi. Maksudnya aku usahakan agar tidak takut seperti itu. Buat apa aku merasa takut seperti itu? Toh aku dan Dafa masih baik-baik saja.
Aku sangat saaaaangat bersyukur dengan takdir seperti ini. Dan mungkin tidak semua orang bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Bahkan banyak yang lebih memilih saling menjauhi, baku diam ketika bertemu, atau saling mencaci karena yang satu meninggalkan yang lain.
Kami masih baik-baik saja, tetap memelihara perasaan masing-masing dan saling berusaha menampar agar menerima kenyataan. Kami tetap bertemu, tetap saling bercerita, tetap saling bertengkar dan tetap saling membahagiakan. Betapa sempurnanya hubungan seperti ini.
Disaat sulit seperti ini, setidaknya masih ada Dafa disampingku. Aku tidak kehilangan semuanya. Aku masih memilikinya, namun tidak jiwanya.  Dan sampai kapanpun aku tetap bukan siapa-siapanya. Aku hanya perempuan yang pernah mengisi sedikit bagian dari hatinya dan pernah mengisi hari-harinya selama 587 hari sampai hari ini. Apapun yang dilakukan Dafa untukku, walaupun hanya sekedar senyum sudah membuatku bersyukur. Pahalaku bertambah karena membuat orang lain bahagia dan membuat bahagia orang lain yang akan berbahagia dengan orang pilihan orang tuanya. Ah sulit sekali memilih bahasa yang pas! Intinya seperti itu.
Akan ada hari dimana perempuan lain berusaha membahagiakan Dafa sepanjang hidupnya nanti dan itu bukan aku. Justru aku sudah lebih dulu “pernah” membahagiakan Dafa. Sedikit merasa menang, karena sudah lebih dulu. Dan banyak merasa kalah karena aku bukan menjadi bagian akhirnya.
Ada satu pertanyaan yang tertinggal. Pernikahan Dafa dengan perempuan itu akan dilangsungkan, tetapi kenapa sampai saat ini dia masih tetap bersamaku? Tidak menjauhiku atau paling tidak menjaga perasaan perempuan yang ingin dinikahinya.
Aku tak punya keberanian untuk menanyakan hal ini. Sudahlah, biarlah semua tetap seperti ini. Selama aku rasa semuanya tulus, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Aku tidak peduli Dafa akan menikah, yang aku tahu hanya sampai detik ini aku masih merasakan ketulusannya. Dafa tidak akan menikahiku, tapi dia tetap bersamaku. Dia akan melakukan hal yang besar untuk perempuan itu, yaitu sebuah pesta pernikahan dengan persiapan yang matang. Dan hanya melakukan hal kecil untukku, sekedar ada bersamaku. Betapa beruntungnya aku. Bukan karena Dafa, tapi karena takdir ini. Tuhan terlalu baik untukku.


“Sekalipun hal kecil, jika dilakukan karena hati akan terasa lebih berarti”

0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER