Surat Pertama


Ini adalah hari ke sembilan setelah pernikahanmu. Setelah tiga panggilan tak terjawab di ponselmu, dan panggilan-panggilan lain yang juga tak kau jawab di banyak hari sebelumnya. Sungguh, aku masih tak mengerti kenapa harus aku yang kau korbankan atas semua ini, atas semua keputusanmu. Kau memaksaku untuk mengerti dengan keadaan, ribuan kali telah aku coba tapi aku tetap tidak mengerti. Tidakkah kau pernah sedikit saja belajar menjadi aku?
Lupakanlah bahwa aku adalah orang yang kau sakiti. Karena sampai kapanpun, kau tak akan pernah mengingat, melihat, mendengarku bahkan ketika aku persis berdiri didepanmu. Berusaha tetap memelukmu meskipun jelas kau menghunus belati tepat di dadaku. Namun tak sedikitpun dendam tercipta di raga ini.
Kemarilah, kita duduk bersama, kembali bercerita tentang apapun seperti dulu. Kau tak perlu takut aku akan larut oleh perasaanku sendiri. Tidakkah kau lihat bahwa aku baik-baik saja? Justru kau yang terlihat tidak baik-baik saja, menghindar dan melawan perasaanmu sendiri.
Apakah kau tidak penasaran dengan keadaan perempuan kecil, yang sering kau panggil cina, yang selalu berusaha membahagiakanmu di sisa waktu yang ia punya? Ia baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik darimu. Ia berusaha baik-baik saja disaat kau membuat keadaannya menjadi sangat buruk. Ia berusaha tetap berdiri dengan kedua kakinya, bertahan dengan dirinya yang lemah karenamu.  Semua ia lakukan demi kebahagiaanmu, tak pernah lebih dari itu.
Sampai detik terakhir aku tulis surat ini, banyak pertanyaan darinya "apakah kau bahagia dengan hidupmu sekarang?". Sampai hari pernikahanmu, anak cina itu masih yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan satu doanya “Ya Tuhan, aku mohon izinmu ,kembalikan ia kepadaku.. Atau paling tidak berikan istrinya kesempatan untuk selalu membahagiakannya seperti aku berusaha membahagiakannya..”. Kurang lebih seperti itu doanya untukmu. Ketika hari pernikahanmu tiba, ia tak juga beranjak dari tempat tidurnya. Hanya memandang sebuah gaun sederhana bernuansa batik, gaun terbaik yang sengaja ia beli hanya untuk menghadiri pesta pernikahanmu. Kemudian, anak cina itu mempunyai satu keyakinan lagi “Aku yakin, kita akan dipertemukan lagi saat kita sudah lebih siap. Atau disaat kita sudah sama-sama bahagia”.
Sekarang, keyakinan itu yang membuat anak cina itu menjadi lebih kuat. Menjadi lebih bijak seperti yang kau inginkan, menjadi lebih tangguh untuk merealisasikan keinginanmu. Bukankah kalian pernah saling bercerita tentang kehidupan di masa depan? “Kita lihat saja, aku akan menjadi seorang yang lebih hebat dari darimu” dan kau balas “Oke, aku tunggu. Kamu harus jauh lebih hebat dari seorang director”. Akan aku buktikan tentang keyakinan si anak cina.
Baiklah, aku tak akan membahas seperti apa kehidupan yang pernah kita jalani bersama, menjalani hari demi hari dan kau cukup membuat aku merasa  seperti milikmu. Itu hanya sedikit pelajaran yang Tuhan berikan untukku. Hanya untuk dipelajari, bukan disesali.
Tak bisakah kau bersikap baik kepadaku saat ini? Tak perlu kau anggap aku musuh, tak perlu kau takut aku merasa tersakiti dan kau tak perlu menjauhiku. Apakah kau lupa bahwa selama ini kita hanya berteman? Jadi apa yang kau khawatirkan dari sebuah pertemanan? Lihatlah, sekarang dirimu yang tak baik-baik saja. Kau yang tak pernah menganggap aku seperti temanmu sendiri.
Begini, kita tidak akan pernah putus karena kita tidak pernah menjalin hubungan yang lebih dari teman. Kita hanya perlu saling mengerti bahwa kita punya kehidupan yang sudah berbeda. Kita tidak akan pernah benar-benar berpisah selama kau masih menyimpan benci terhadapku.
Bahagiakanlah dirimu sendiri, seperti aku pernah membahagiakanmu. Cintai dirimu sendiri seperti aku pernah mencintaimu. Dan aku akan membahagiakan diriku sendiri seperti seseorang yang saat ini sedang berusaha membahagiakan aku. Aku akan mencintai diriku sendiri seperti seseorang yang saat ini sedang berusaha mencintaiku.

0 komentar:

Posting Komentar

 

INSTAGRAM

http://instagram.com/purooos

Facebook

https://www.facebook.com/putrirosanov

TWITTER