Ini adalah hari ke sembilan setelah
pernikahanmu. Setelah tiga panggilan tak terjawab di ponselmu, dan
panggilan-panggilan lain yang juga tak kau jawab di banyak hari sebelumnya.
Sungguh, aku masih tak mengerti kenapa harus aku yang kau korbankan atas semua
ini, atas semua keputusanmu. Kau memaksaku untuk mengerti dengan keadaan,
ribuan kali telah aku coba tapi aku tetap tidak mengerti. Tidakkah kau pernah
sedikit saja belajar menjadi aku?
Lupakanlah bahwa aku adalah orang yang kau
sakiti. Karena sampai kapanpun, kau tak akan pernah mengingat, melihat,
mendengarku bahkan ketika aku persis berdiri didepanmu. Berusaha tetap
memelukmu meskipun jelas kau menghunus belati tepat di dadaku. Namun tak
sedikitpun dendam tercipta di raga ini.
Kemarilah, kita duduk bersama, kembali
bercerita tentang apapun seperti dulu. Kau tak perlu takut aku akan larut oleh
perasaanku sendiri. Tidakkah kau lihat bahwa aku baik-baik saja? Justru kau
yang terlihat tidak baik-baik saja, menghindar dan melawan perasaanmu sendiri.
Apakah kau tidak penasaran dengan keadaan
perempuan kecil, yang sering kau panggil cina, yang selalu berusaha
membahagiakanmu di sisa waktu yang ia punya? Ia baik-baik saja, bahkan jauh
lebih baik darimu. Ia berusaha baik-baik saja disaat kau membuat keadaannya
menjadi sangat buruk. Ia berusaha tetap berdiri dengan kedua kakinya, bertahan
dengan dirinya yang lemah karenamu.
Semua ia lakukan demi kebahagiaanmu, tak pernah lebih dari itu.
Sampai detik terakhir aku tulis surat ini,
banyak pertanyaan darinya "apakah kau bahagia dengan hidupmu sekarang?". Sampai hari
pernikahanmu, anak cina itu masih yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan satu
doanya “Ya Tuhan, aku mohon izinmu ,kembalikan ia kepadaku.. Atau paling tidak
berikan istrinya kesempatan untuk selalu membahagiakannya seperti aku berusaha
membahagiakannya..”. Kurang lebih seperti itu doanya untukmu. Ketika hari
pernikahanmu tiba, ia tak juga beranjak dari tempat tidurnya. Hanya memandang
sebuah gaun sederhana bernuansa batik, gaun terbaik yang sengaja ia beli hanya
untuk menghadiri pesta pernikahanmu. Kemudian, anak cina itu mempunyai satu
keyakinan lagi “Aku yakin, kita akan dipertemukan lagi saat kita sudah lebih
siap. Atau disaat kita sudah sama-sama bahagia”.
Sekarang, keyakinan itu yang membuat anak
cina itu menjadi lebih kuat. Menjadi lebih bijak seperti yang kau inginkan,
menjadi lebih tangguh untuk merealisasikan keinginanmu. Bukankah kalian pernah
saling bercerita tentang kehidupan di masa depan? “Kita lihat saja, aku akan
menjadi seorang yang lebih hebat dari darimu” dan kau balas “Oke, aku tunggu.
Kamu harus jauh lebih hebat dari seorang director”.
Akan aku buktikan tentang keyakinan si anak cina.
Baiklah, aku tak akan membahas seperti apa kehidupan yang pernah kita jalani bersama, menjalani hari demi hari dan kau cukup membuat aku merasa seperti milikmu. Itu hanya sedikit pelajaran yang Tuhan berikan untukku. Hanya untuk dipelajari, bukan disesali.
Baiklah, aku tak akan membahas seperti apa kehidupan yang pernah kita jalani bersama, menjalani hari demi hari dan kau cukup membuat aku merasa seperti milikmu. Itu hanya sedikit pelajaran yang Tuhan berikan untukku. Hanya untuk dipelajari, bukan disesali.
Tak bisakah kau bersikap baik kepadaku
saat ini? Tak perlu kau anggap aku musuh, tak perlu kau takut aku merasa
tersakiti dan kau tak perlu menjauhiku. Apakah kau lupa bahwa selama ini kita
hanya berteman? Jadi apa yang kau khawatirkan dari sebuah pertemanan? Lihatlah,
sekarang dirimu yang tak baik-baik saja. Kau yang tak pernah menganggap aku
seperti temanmu sendiri.
Begini, kita tidak akan pernah putus
karena kita tidak pernah menjalin hubungan yang lebih dari teman. Kita hanya
perlu saling mengerti bahwa kita punya kehidupan yang sudah berbeda. Kita tidak
akan pernah benar-benar berpisah selama kau masih menyimpan benci terhadapku.
Bahagiakanlah dirimu sendiri, seperti aku
pernah membahagiakanmu. Cintai dirimu sendiri seperti aku pernah mencintaimu.
Dan aku akan membahagiakan diriku sendiri seperti seseorang yang saat ini
sedang berusaha membahagiakan aku. Aku akan mencintai diriku sendiri seperti
seseorang yang saat ini sedang berusaha mencintaiku.

0 komentar:
Posting Komentar